Journal article

UJI KLINIS SINDROMA KLINIS LIMFADENITIS TUBERKULOSIS DENGAN FINE NEEDLE ASPIRATION BIOPSY (FNAB) SEBAGAI BAKU EMAS

I Gst Ngr Pt Mandela Agatha Sunantara Ni Putu Sriwidyani I Wayan Juli Sumadi Ni Putu Ekawati I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi

Volume : 5 Nomor : 2 Published : 2016, February

e-Jurnal Medika Udayana

Abstrak

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah global. Sindroma klinis dari limfadenitis tuberkulosis (TB) dapat memberikan manfaat untuk menunjang dalam diagnosis limfadenitis TB. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui akurasi diagnosis limfadenitis tuberkulosis berdasarkan sindroma klinis dibandingkan dengan diagnosis fine needle aspiration biopsy (FNAB) sebagai baku emas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian uji diagnostik. Sampel diambil menggunakan wawancara menggunakan kuisioner terstruktur dan melihat rekam medis. Penelitian ini dimulai dengan prosedur pengambilan dan pengumpulan data yang dilakukan dari bulan Januari 2015 – Agustus 2015. Selanjutnya data yang terkumpul akan dilakukan analisis univariat untuk memperoleh karakteristik demografi dan analisis kuantitatif untuk memperoleh nilai sensitivitas, spesifisitas, ramal positif, dan ramal negatif. Dari 86 sampel yang diperiksa didapatkan sensitivitas, spesifisitas, nilai ramal positif, dan nilai ramal negatif berdasarkan 2 gejala klinis positif masing-masing sebesar 34,1%, 83,33%, 68,2%, dan 54,7% serta berdasarkan 3 gejala klinis positif sebesar 6,8%, 95,2%, 60,0%, dan 49,4%. Selanjutnya, dengan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan sindroma klinis limfadenitis TB didapatkan sensitivitas yang kurang, namun memiliki spesifisitas yang tinggi. Dapat disimpulkan bahwa uji diagnostik dengan menggunakan sindroma klinis kurang baik sebagai alat pendeteksi penyakit atau skrining penyakit limfadenitis TB. Namun, alat ini dapat dipakai sebagai alat untuk memperkuat dugaan suatu penyakit atau sebagai alat konfirmasi dari suatu penyakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai acuan dalam penggunaan diagnosis klinis suspek limfadenitis TB, sehingga selanjutnya pasien dapat diarahkan untuk melakukan metode diagnostik TB lanjutan sehingga pasien akan mendapatkan manajemen terapi yang tepat.